Sleman – Rapat Kerja WIlayah (Rakerwil) Lazismu Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diselenggarakan pada tanggal 5-6 Desember, di University Hotel, Depok, Sleman, DIY. Rakerwil kali ini mengusung tema “Penguatan Inovasi yang terintegrasi, berdampak, dan berkelanjutan”, yang diikuti seluruh Lazismu se-Yogyakarta dan mitra-mitra yang membersamai Lazismu.
Pada pembukaan Rakerwil, diawali oleh penampilan koreografi seni pencak silat salah satu penerima Beasiswa Sang Surya (BSS) Lazismu DIY, Khoirul Wildan.

Jefree Fahana, Ketua Lazismu DIY, dalam sambutannya menyebut mengelola organisasi Lazismu tidaklah sesuatu yang mudah. Menurutnya, amanah harus dipegang dengan sebaik mungkin dan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
Meskipun Lazismu DIY diberikan label Lazismu Terbaik se-Nasional, Jefree justru berat hati karena sesuai pandangannya, secara internal Lazismu DIY belum memberikan yang terbaik.
“Sebenarnya bagi para pengemban amanah seperti kita, amil, BP (badan pengurus), maupun eksekutif itu, sungguh-sungguh sangat berat”, sebutnya.
Jefree melanjutkan, selain memang ada penguatan pada amanah yang diberikan, yang perlu digaris bawahi kembali adalah pada standar gaji amil. Menurutnya, hal tersebut menjadi penting karena belum terstandarisasi sampai saat ini.
Kemudian Jefree juga berharap adanya penguatan koordinasi antara pimpinan-pimpinan Muhammadiyah, baik itu Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dengan Lazismu. Jefree mewanti-wanti jangan sampai adanya kompetisi antara pimpinan dengan lazismu yang membuat hubungan menjadi tidak harmonis.
“Jangan sampai seperti ini. Banyak-banyak yang konsultasi, Pak. Jadi ini sudah sudah tidak tepat”, tekannya.
Ahmad Imam Mujadid Rais, Ketua BP Lazismu Pusat juga mengamini hal yang sama, bahwa amanah merupakan suatu kehormatan, namun tetap ada tanggung jawab yang besar.
Perihal gaji amil, Mujadid Rais mengatakan dalam sambutannya, belum ada standarisasi gaji dikarenakan perbedaan standar hidup yang berbeda di tiap wilayah. Dia mencontohkan, saat Pusat turun dan masuk ke wilayah Yogyakarta, akan berbeda dan menurutnya terlalu besar.
“Misalkan, Jawa Tengah. Tapi ketika masuk ke wilayah di luar Jawa (misalnya) ke Kalimantan dianggap terlalu kecil, karena standar hidup di Kalimantan yang sangat mahal seperti itu”, katanya.
Melihat antusiasme peserta yang mengikuti Rakerwil, Mujadid Rais turut menguatkan seluruh peserta yang hadir dengan pengambilan kisah Kyai Bandongan. Dia menyebut, meskipun berat, jika melalui kacamata risalah Islam, Ia meyakinkan pertolongan Allah akan datang.
“Semua dalam memberikan, (baca: perlu mempunyai) keyakinan bahwa kita harus kolaborasi sama-sama, memperkuat untuk mendukung dakwah persyarikatan”, pungkasnya.
Di tengah acara pembukaan berlangsung. Lazismu DIY melakukan penyerahan paket bantuan kebencanaan Sumatera senilai Rp. 450.006.800, secara simbolis yang berkolaborasi dengan mitra, dan diserahkan kepada Sumatran Student Communication Forum.

Ariswan, Wakil Ketua PWM sebagai yang memberikan sambutan terakhir sekaligus membuka Rakerwil, berharap Lazismu untuk terus memberikan kepercayaannya kepada para mitra.
Dengan program sistem manajemen zakat, infak, sedekah, dan lainnya, seperti yang dilakukan oleh Lazismu. Menurut Ariswan akan terus berjalan sepanjang zaman.
Ariswan juga mengajak, seluruh peserta untuk menjadi bagian dari perubahan. Siapapun yang memberikan peran pada gerakan ini, menurutnya sedang berjalan pada jalan melalui puncak prestasi sesuai kemapanan masing-masing.
“Kita berupaya untuk meraih hasil maksimal, dalam rangka mengabdi yang diberikan (oleh) Allah Subhanahu Wa Taala”, tutup Ariswan.

Berbagi donasi melalui : https://jalankebaikan.id/detailCampaign?id=64
Kontak:
LAZISMU Daerah Istimewa Yogyakarta
Email: lazismudiy@gmail.com
Website: lazismudiy.or.id / jalankebaikan.id
Telepon: +62 895-3635-20118



