LAZISMU DIY Perkuat Kapasitas LAZISMU Pidie Jaya melalui Pelatihan dan Pendampingan

LAZISMU DIY Perkuat Kapasitas LAZISMU Pidie Jaya melalui Pelatihan dan Pendampingan

PIDIE JAYA — LAZISMU DIY melaksanakan pelatihan dan pendampingan bagi LAZISMU Pidie Jaya, Aceh, pada 16–18 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia LAZISMU Pidie Jaya dalam mengembangkan pengelolaan zakat yang berkualitas, transparan, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Kegiatan pada Rabu (16/9) diawali dengan pembukaan dan Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan LAZISMU Wilayah Aceh, PDM Pidie Jaya, LAZISMU Pidie Jaya, dan LAZISMU Bireuen. FGD menjadi ruang untuk memetakan kondisi kelembagaan, kebutuhan penguatan, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan LAZISMU di daerah. 

LAZISMU DIY Perkuat Kapasitas LAZISMU Pidie Jaya melalui Pelatihan dan Pendampingan

Ketua PDM Pidie Jaya, Makmur Hasan Sufi, S.Sos.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan tersebut. Menurutnya, pendampingan ini memiliki arti penting karena LAZISMU Pidie Jaya sedang berada dalam tahap penguatan kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia.

Ia menjelaskan, gagasan pendampingan LAZISMU Pidie Jaya bermula dari proses asesmen pascabencana yang dilakukan oleh LRB. Dalam proses tersebut, aspek kelembagaan LAZISMU kemudian dinilai penting untuk turut diperkuat sebagai bagian dari upaya pemulihan.

“Kalau bukan LAZISMU, siapa yang akan menggerakkan kelembagaan dan kemanusiaan ini?” ujar Makmur, menekankan pentingnya keberadaan LAZISMU sebagai fondasi gerakan sosial yang dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Ia menambahkan, pengelolaan zakat tidak hanya diarahkan untuk warga Muhammadiyah, tetapi juga diharapkan dapat menjangkau masyarakat Pidie Jaya dan Aceh secara lebih luas. Karena itu, para peserta diminta memanfaatkan momentum pelatihan untuk menimba ilmu dan memperkuat kapasitas pengelolaan LAZISMU.

LAZISMU DIY Perkuat Kapasitas LAZISMU Pidie Jaya melalui Pelatihan dan Pendampingan

Sementara itu, Eka Yuhendri, S.H.I., M.H., Sekretaris LAZISMU DIY menyampaikan bahwa pendampingan LAZISMU Pidie Jaya berangkat dari proses asesmen yang dilakukan pascabencana di Aceh. Dalam proses tersebut, aspek kelembagaan LAZISMU menjadi salah satu bagian penting yang kemudian perlu diperkuat dalam rangkaian program rehabilitasi dan rekonstruksi.

Penguatan kelembagaan menjadi penting karena zakat memiliki potensi yang terus berkembang seiring dengan keberadaan masyarakat Muslim. Karena itu, LAZISMU diharapkan tidak hanya mampu menghimpun dana zakat, tetapi juga mengelolanya melalui program-program yang memberikan manfaat dan pemberdayaan bagi masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan zakat sebagai instrumen pemberdayaan. Zakat diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk membantu masyarakat keluar dari kondisi rentan menuju kehidupan yang lebih berdaya.

Selain penguatan kelembagaan, aspek kaderisasi dan sumber daya manusia menjadi perhatian dalam pendampingan tersebut. Pelatihan diharapkan tidak berhenti selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, tetapi menjadi awal dari kerja sama yang lebih panjang untuk memperkuat kader dan pengelola LAZISMU Pidie Jaya.

“Kami berharap program pelatihan dan pendampingan ini tidak hanya berakhir tiga hari di sini. Ada kerja sama untuk kaderisasi dan penguatan sumber daya manusia sehingga ke depan LAZISMU Pidie Jaya semakin mampu bergerak bersama masyarakat,” jelasnya.

LAZISMU DIY Perkuat Kapasitas LAZISMU Pidie Jaya melalui Pelatihan dan Pendampingan

Melalui pelatihan dan pendampingan ini, LAZISMU DIY berharap LAZISMU Pidie Jaya dapat terus berkembang dengan mengoptimalkan potensi zakat di daerah. Penguatan SDM, kelembagaan, serta pengembangan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan muzaki sekaligus memperluas manfaat zakat.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen kolaboratif LAZISMU dalam memperkuat jejaring dan kapasitas kelembagaan di daerah, khususnya dalam proses pemulihan dan pengembangan masyarakat pascabencana di Aceh yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas lembaga dan kemandirian masyarakat di Aceh.

Berita Terakhir

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Sudah Berbuat Baik Hari ini?