LAZISMU DIY Perkuat Pemulihan Pasca Bencana Aceh, Susun Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Berkelanjutan

LAZISMU DIY Perkuat Pemulihan Pasca Bencana Aceh, Susun Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Berkelanjutan

YOGYAKARTA – Setelah menjalankan respon tanggap darurat selama tiga bulan di wilayah terdampak bencana di Aceh, LAZISMU DIY kini memperkuat komitmennya dalam pemulihan jangka panjang melalui penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi.

Langkah tersebut ditandai dengan pelaksanaan Workshop Penyusunan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang digelar di Yogyakarta, Kamis (24/04), sebagai bagian dari upaya merumuskan arah program pemulihan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Sebelumnya, LAZISMU DIY bersama Muhammadiyah telah melakukan respon kebencanaan di sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tengah. Dalam fase tanggap darurat, berbagai layanan telah diberikan, mulai dari layanan kesehatan, logistik, dapur umum, hingga dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak.

Selama periode respon, ratusan relawan diterjunkan untuk menjangkau wilayah-wilayah terdampak yang sebagian besar berada di kawasan sulit akses. Selain itu, bantuan logistik berupa family kit, hygiene kit, sembako, hingga perlengkapan pendidikan juga telah disalurkan kepada masyarakat.

LAZISMU DIY Perkuat Pemulihan Pasca Bencana Aceh, Susun Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Berkelanjutan

Tidak hanya itu, LAZISMU DIY juga menyalurkan bantuan kemanusiaan dengan total anggaran mencapai lebih dari Rp2,63 miliar pada fase tanggap darurat sebagai bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Memasuki fase pemulihan, LAZISMU DIY menegaskan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada tahap darurat, melainkan harus dilanjutkan dengan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang berdampak jangka panjang.

Ketua LAZISMU DIY, Jefree Fahana, menegaskan bahwa perumusan program harus dilakukan secara matang dengan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.

“Program tidak boleh dirumuskan secara terburu-buru, tetapi harus disusun bersama dengan pihak yang memahami kondisi lapangan agar tepat sasaran dan dapat berjalan optimal,” ujarnya.

Dalam workshop tersebut, disampaikan bahwa program rehabilitasi dan rekonstruksi akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur serta pemberdayaan ekonomi masyarakat terdampak.

Beberapa rencana program yang disusun antara lain pembangunan fasilitas ibadah di wilayah terdampak, penguatan sarana pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal seperti pertanian dan usaha mikro.

LAZISMU DIY Perkuat Pemulihan Pasca Bencana Aceh, Susun Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Berkelanjutan

Selain itu, program juga diarahkan pada penguatan kapasitas kelembagaan lokal agar masyarakat memiliki ketangguhan dalam menghadapi risiko bencana di masa mendatang.

Koordinator tim respons bencana, Indrayanto, menjelaskan bahwa fase tanggap darurat yang telah dijalankan sebelumnya menjadi fondasi penting dalam menyusun program pemulihan.

“Pergerakan di tiga bulan pertama cukup intens karena wilayah yang dijangkau merupakan kawasan yang sulit,” ungkapnya.

LAZISMU DIY Perkuat Pemulihan Pasca Bencana Aceh, Susun Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Berkelanjutan

Ke depan, program rehabilitasi dan rekonstruksi dirancang tidak hanya berfokus pada bantuan fisik, tetapi juga membangun sistem sosial dan ekonomi masyarakat yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Melalui workshop ini, LAZISMU menargetkan tersusunnya blueprint program rehabilitasi dan rekonstruksi yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2026, dengan estimasi pendampingan antara enam bulan hingga satu tahun.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen LAZISMU dalam menghadirkan penanganan bencana yang berkelanjutan, tidak hanya hadir pada saat darurat, tetapi juga memastikan masyarakat dapat pulih, bangkit, dan berdaya secara mandiri.

Berita Terakhir

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Sudah Berbuat Baik Hari ini?