KULON PROGO — Dari kebun pisang hingga produk olahan dan gagasan eduwisata, potensi Padukuhan Grobog, Kalurahan Jati Sarono, Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo, terus dikembangkan melalui program Kampung Berkemajuan. Memasuki tahun kedua, program tersebut diarahkan tidak sekadar melanjutkan kegiatan sebelumnya, tetapi memperkuat ekosistem pemberdayaan agar manfaatnya semakin terukur dan berkelanjutan.
Arah pengembangan tersebut dibahas dalam Sosialisasi Kampung Berkemajuan Tahun Kedua yang digelar pada Minggu (27/9/26). Mengusung tema “Sinergi Kebaikan untuk Inovasi Sosial”, kegiatan ini mempertemukan unsur Muhammadiyah, pemerintah, organisasi perangkat daerah (OPD), legislatif, pelaku UMKM, serta masyarakat untuk menyusun langkah pengembangan Kampung Berkemajuan ke depan.
Ketua MPM PWM DIY, Agus Amin Saifudin, mengatakan Kampung Berkemajuan merupakan bentuk pemberdayaan berbasis kawasan yang diinisiasi LAZISMU bersama MPM. Program tersebut sebelumnya telah berjalan di wilayah Grobog dan mulai menunjukkan sejumlah perkembangan, khususnya melalui pengembangan komoditas pisang.
Menurutnya, pengembangan potensi kawasan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Karena itu, keberlanjutan program membutuhkan sinergi antara Muhammadiyah, pemerintah, DPRD, OPD, serta masyarakat. Ia menyebut pengembangan pisang menjadi salah satu contoh potensi yang dapat terus diperkuat, termasuk melalui pengembangan produk olahan dan dukungan terhadap lahan wakaf yang sebelumnya belum optimal dimanfaatkan.
“Kalau bicara kebaikan itu enggak bisa sendiri, harus bersinergi,” ujar Agus dalam sambutannya.
Memasuki tahun kedua, ia berharap program Kampung Berkemajuan dapat bergerak lebih cepat dengan ukuran keberhasilan yang semakin jelas. Pemberdayaan juga diharapkan berlangsung secara inklusif dan partisipatif, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi memiliki kapasitas untuk mengembangkan potensi yang ada secara mandiri.
Hal senada disampaikan perwakilan Panewu Kapanewon Nanggulan, Heri Kurniawan. Ia mengapresiasi keberlanjutan Kampung Berkemajuan dan mendorong kolaborasi antara pemerintah dengan organisasi masyarakat dalam mengembangkan potensi wilayah.
Salah satu potensi yang mulai mendapat perhatian adalah produk Pisang Muku dari Grobog. Produk tersebut telah diperkenalkan dalam sejumlah kegiatan tingkat kabupaten dan dinilai memiliki peluang untuk dikaitkan dengan pengembangan sektor pariwisata. Pemerintah Kapanewon juga membuka peluang agar produk lokal tersebut dapat semakin dikenal melalui destinasi wisata yang ada di wilayah Nanggulan.
Dalam pemaparan program, MPM PWM DIY yang disampaikan Lukman Johanuddin menjelaskan bahwa Kampung Berkemajuan diarahkan pada penguatan pilar ekonomi LAZISMU dengan mengembangkan potensi lokal secara terintegrasi. Pengembangan tidak hanya menyasar produksi, tetapi juga mencakup pengolahan, pemasaran, penguatan UMKM, hingga potensi wisata berbasis masyarakat.
“Yang kita harapkan dari Kampung Berkemajuan ini adalah bagaimana kemudian ada sinergi antara LAZISMU, MPM, pemerintah, organisasi Muhammadiyah, dan berbagai pihak yang ada,” kata Lukman dalam pemaparannya.
Pada tahun pertama, sebanyak 1.000 bibit pisang telah disiapkan dan didistribusikan untuk ditanam di sejumlah lokasi, termasuk kawasan LKSA serta masyarakat Grobog dan Nanggulan melalui KCM dan Jatam. Dalam pelaksanaannya, budidaya masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti penyakit tanaman, hama, dan kondisi kekeringan. Karena itu, keterlibatan Dinas Pertanian dan Perikanan menjadi bagian penting dalam pengembangan tahap berikutnya.
Pengembangan komoditas tersebut kemudian diarahkan menjadi sebuah ekosistem, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan produk, hingga pemasaran. Dari proses tersebut telah dikembangkan sejumlah olahan berbahan pisang, seperti keripik gedebok pisang, kerupuk gonggol pisang, ceriping pisang, banana cookies, muffin pisang, hingga banana bread atau cake.
Produk-produk tersebut menggunakan identitas “Pisang Muku” yang berasal dari Padukuhan Grobog, Jati Sarono, Nanggulan. Sebagian produk juga telah diperkenalkan melalui platform pemasaran digital dan tengah diarahkan untuk memperoleh dukungan perizinan serta penguatan branding.
Selain pengembangan produk, perhatian pada tahun kedua akan semakin diarahkan pada penguatan sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Keterlibatan anak muda dinilai penting untuk mengembangkan pemasaran digital sekaligus membuka peluang pengelolaan potensi wisata di kawasan tersebut.

Gagasan lain yang mulai dikembangkan adalah eduwisata berbasis pisang dan potensi kawasan Grobog. Konsep tersebut dapat mencakup edukasi pengolahan pisang, kelas memasak, pembelajaran usaha, pengalaman bertani dan bersawah, hingga pengenalan budidaya pisang. Potensi lanskap Sungai Progo juga disebut dapat menjadi bagian dari pengembangan kawasan apabila mendapat dukungan dan pendampingan dari pihak terkait.
“Harapannya nanti ada eduwisata, ada edukasi pengolahan pisang, ada cooking class, belajar bisnis, kemudian bisa juga belajar bertani, belajar sawah, dan budidaya pisang,” jelas Lukman, Ketua JATAM DIY.
Sementara itu, Muhammad Saeful Effendi dari LAZISMU DIY menjelaskan bahwa Kampung Berkemajuan merupakan bagian dari upaya membangun program pemberdayaan yang memiliki dampak jangka panjang. Program tersebut lahir dari semangat sinergi dan kolaborasi sebagaimana menjadi mandat dalam musyawarah LAZISMU.
Menurutnya, LAZISMU tidak hanya menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga mendorong program produktif yang dapat mengantarkan masyarakat menuju kemandirian. Kampung Berkemajuan menjadi salah satu bentuk program yang diharapkan mampu menunjukkan dampak secara nyata dan terukur.
“LAZISMU itu bukan hanya memberikan yang konsumtif, tetapi juga ada program-program yang sifatnya produktif dan jangka panjang,” ujarnya.
Memasuki tahun kedua, evaluasi akan dilakukan dengan menggunakan kondisi tahun pertama sebagai baseline. Sejumlah parameter yang akan diperhatikan antara lain peningkatan kualitas produk, informasi nilai gizi, diversifikasi produk, kapasitas produksi, penguatan branding, aktivasi pusat pemasaran, hingga pengembangan eduwisata.

Dengan pendekatan tersebut, Kampung Berkemajuan di Grobog diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan yang melibatkan masyarakat, Muhammadiyah, pemerintah, OPD, dunia pendidikan, sektor swasta, serta berbagai pihak lainnya.
Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanggapan dan diskusi bersama peserta, termasuk unsur DPRD Kulon Progo dan OPD terkait. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan dan dukungan dalam memperkuat pengembangan Kampung Berkemajuan pada tahun kedua.
Memasuki tahun kedua, Kampung Berkemajuan di Grobog diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan yang melibatkan masyarakat, Muhammadiyah, pemerintah, OPD, dunia pendidikan, sektor swasta, serta berbagai pihak lainnya. Dengan sinergi tersebut, potensi lokal diharapkan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi sekaligus membuka ruang baru bagi kemandirian masyarakat.


