PIDIE JAYA — Pelatihan dan pendampingan LAZISMU Pidie Jaya, Aceh, resmi ditutup setelah berlangsung selama tiga hari. Penutupan menjadi momentum bagi peserta untuk membawa pulang ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama pendampingan sekaligus melanjutkan perjuangan memperkuat LAZISMU di daerah.
Kegiatan yang dilaksanakan LAZISMU DIY tersebut merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas LAZISMU Pidie Jaya pascabencana. Penutupan dihadiri pengurus dan peserta dari LAZISMU Wilayah Aceh, PDM Pidie Jaya, LAZISMU Pidie Jaya, PDM Bireuen, serta LAZISMU Bireuen.

Dalam sambutannya pada acara penutupan, Eka Yuhendri, Sekretaris LAZISMU DIY menyampaikan bahwa berakhirnya pelatihan bukan menjadi akhir dari perjuangan. Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi awal bagi para peserta untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam menjalankan amanah sebagai amil.
“Pelatihan mulai berakhir, tetapi perjuangan kita sebagai amil baru saja dimulai,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa para amil memiliki tujuan bersama untuk menjadikan zakat sebagai jalan menghadirkan kemanfaatan dan kesejahteraan bagi umat. Karena itu, terdapat tiga hal yang diharapkan dapat dibawa peserta setelah mengikuti pelatihan, yakni ilmu, integritas, dan persaudaraan.
Ilmu yang diperoleh diharapkan mampu memperbaiki cara kerja, integritas menjadi landasan dalam menjaga setiap amanah, sementara persaudaraan menjadi kekuatan untuk saling mendukung dalam membesarkan LAZISMU di daerah.
“Jadilah amil yang profesional, amanah, transparan, dan tetap dekat dengan umat,” pesannya.

Pada kesempatan yang sama, Ustaz Makmur Hasan Sufi selaku Ketua PDM Pidie Jaya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas pelaksanaan pelatihan dan pendampingan tersebut. Menurutnya, kegiatan selama tiga hari menjadi kesempatan berharga bagi pengurus LAZISMU Pidie Jaya untuk mendapatkan pengetahuan dan penguatan dalam mempersiapkan lembaga menghadapi tantangan ke depan.
Ia juga mengaitkan kegiatan tersebut dengan proses kebangkitan masyarakat Pidie Jaya setelah terdampak bencana. Dukungan berbagai pihak, termasuk Muhammadiyah DIY, dinilai telah memberikan jalan bagi masyarakat untuk kembali menata aktivitas dan kelembagaan Muhammadiyah di Pidie Jaya.
Pembangunan musala dan dukungan terhadap Gedung Dakwah Muhammadiyah, menurutnya, menjadi salah satu wujud nyata dari proses tersebut. Fasilitas yang sebelumnya terdampak bencana kini kembali dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Selama tiga hari ini sesuatu yang sangat bernilai bagi kita. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama ilmu yang diberikan dapat kita manfaatkan,” ungkapnya.
Ia berharap berakhirnya pendampingan justru menjadi awal bagi LAZISMU Pidie Jaya untuk bergerak lebih aktif. Potensi yang ada di Pidie Jaya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan program-program yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan.
Menurutnya, LAZISMU Pidie Jaya yang saat ini masih dalam tahap penguatan perlu terus dikembangkan agar ke depan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi umat.
“LAZISMU Pidie Jaya hari ini masih baru tumbuh. Ke depan bisa mewarnai dan bisa memberikan kontribusi besar bagi masyarakat,” katanya.

Penutupan pelatihan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa proses penguatan LAZISMU Pidie Jaya tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Ilmu yang telah diperoleh, amanah yang diemban, serta hubungan kolaborasi yang telah dibangun diharapkan terus dilanjutkan dalam kerja-kerja nyata di tengah masyarakat.
Dengan berakhirnya pelatihan, para peserta kembali ke daerah masing-masing dengan membawa semangat yang sama: memperkuat LAZISMU, menjaga amanah zakat, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat.
Dengan semangat tersebut, pelatihan dan pendampingan LAZISMU Pidie Jaya diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kelembagaan, meningkatkan profesionalitas amil, serta menghadirkan LAZISMU sebagai lembaga yang semakin dekat dengan umat dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat Pidie Jaya dan sekitarnya.


