Panti Lansia Muhammadiyah dengan Tetap Birul Walidain

BANTUL – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) tertinggi di Indonesia. Sampai-sampai ada pendapat yang mengatakan “Orang-orang yang cari duwit di Jakarta atau kota-kota lain memilih Yogyakarta jadi tempat tinggal di masa tua.”

Menurut Muhammad Rifa’at Adiakarti Farid, S.Sos., M.A, Ketua Divisi Pelayanan Lansia Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Yogyakarta juga dinyatakan sebagai kota paling ramah lansia.

Fakta ini ia sampaikan saat menjadi salah satu narasumber dalam acara Pelatihan Pendamping Lansia oleh Pusat Layanan Lansia Terpadu Muhammadiyah, Sabtu (25/11), di Gedung Tabligh Institute Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kasihan, Bantul.

Kegiatan ini adalah kerja sama Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) dengan Lazismu PWM DIY dan Pusat Studi Dinamika Sosial Universitas Ahmad Dahlan (UAD.

Mengangkat tema “Lansia Mandiri, Sejahtera, dan Bahagia”, perlatihan dibagi dalam tiga sesi. Rifa’at menjadi narasumber pada sesi awal. Selanjutnya, materi dari Solikhah, SKM, M.Kes. Dr.PH. (Sekretaris Majelis Kesejahteraan Sosial Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY) dan Rochana Ruliyandari, S.E., M.Kes. (Ketua Pusat Studi Dinamika Sosial UAD).

Rifa’at menerangkan bahwa saat ini Muhammadiyah memiliki 22 panti di DIY. Namun, seluruhnya cenderung mewadahi anak-anak yatim. Belum ada wadah yang dapat melayani kebutuhan lansia.

Meski begitu, Muhammadiyah telah memiliki program Muhammadiyah Senior Care dimana terdapat kegiatan berbasis komunitas bagi lansia yang dilaksanakan di sejumlah titik seperti Kalibawang, Mlati, Sanden, dan sebagainya. Kegiatannya antara lain pengajian dan senam.

Ia juga menyampaikan bahwa, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah sepakat membuat panti di Bangunjiwo, Kasihan. Ini diperuntukkan untuk melayani para lansia sekaligus biro konsultasi keluarga. Sejauh ini, rencana ini masih diproses.

Pendirian panti wreda itu, imbuh Rifa’at, bukan dimaksudkan untuk memisahkan lansia dari keluarganya. “Bukan tidak mendorong birul walidain,” jelasnya. Program ini diarahkan bagi para lansia telantar dimana memang tidak ada keluarga yang dapat merawat.

Materi kedua disampaikan Solikha yang merupakan Sekretaris Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA). Ia menjelaskan arti lansia menurut UU No. 13 tahun 1998 yang berarti seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.

Lansia selama ini identik dengan orang yang sudah tidak berdaya. Tapi jika dilihat lagi ternyata banyak dari mereka yang masih aktif dan produktif. Solikha menyebutkan di antaranya Wakil Presiden saat ini, K.H. Ma’ruf Amin, dan Presiden 2004-2014, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tapi, “Banyak lansia yang masih perlu bantuan,” katanya.

Terdapat tiga masalah utama yang dialami mereka yakni masalah pendidikan, kesehatan, serta ketenagakerjaan.

Salah satu yang disebutkan Solikha adalah penyakit Alzeimer alias pikun yang diderita oleh 1 dari 10 orang Indonesia yang berumur lebih dari 65 tahun. Di antara ciri-cirinya adalah sering bertanya dan bercerita hal yang sama berulang kali dan sulit fokus. Selain itu, ada juga penyakit demensia dimana terdapat perubahan pada otak.

Untuk mengurangi risikonya, terdapat beberapa saran yakni melakukan olahraga rutin, mengupayakan pola hidup sehat, melatih otak untuk tetap aktif, mendorong berpikir positif, serta mengajak beraktivitas. “Beberapa lansia disarankan masuk ke komunitas lansia agar banyak kegiatan,” tuturnya.

Sebagai saran bagi yang merawat lansia, Solikha memberikan tiga masukan, yaitu meningkatkan kesehatan mereka, melakukan upaya pencegahan untuk kontrol berkala, serta mengoptimalkan fungsi mental dengan memberikan bimbingan rohani.

Sedangkan Rochana Ruliyandari cenderung mengupas tips-tips praktikal dalam mendampingi lansia.

Yang utama, dosen yang akrab disapa Ruli itu menyatakan, “Namanya konselor, kita harus sabar dengan segala keluhan.” Sebagaimana menghadapi anak kecil, seorang pendamping lansia perlu menjauhi kata “jangan” karena itu akan mempengaruhi sikap seorang lansia.

Kondisi psikologis lansia sangat perlu dipahami pendampingnya, seperti adanya perasaan kesepian yang muncul. “Ada orang tua yang lebih memilih di panti jompo, karena di panti jompo ada yang diajak ngobrol,” tuturnya.

Sejalan dengan materi sebelumnya, Ruli menyatakan bahwa tujuan keperawatan lansia ini dapat membantu meningkatkan kesehatan, mencegah dari penyakit, serta mengoptimalkan fungsi mental.

Salah satu hal yang ditekankan Ruli adalah hikmah dari pendamping. “Utamanya, saya bisa memetik pahala. Nggak perlu jauh-jauh di panti asuhan atau kemana,” katanya. Mendampingi lansia seperti orangtua atau mertua adalah sumber pahala yang sudah disediakan cuma-cuma. (*)

Wartawan: Ahimsa W. Swadeshi

Editor: Heru Prasetya

Sumber: mediamu

Berita Terakhir

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top