Masjid Jogokariyan dan Peran Dakwah Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jogokariyan, Muhammad Jazir atau yang lebih dikenal dengan Ustadz Jazir menginginkan, supaya memfungsikan Masjid Jogokariyan, Yogyakarta sebagai tempat Pengajian Muhammadiyah bagi masyarakat yang lebih luas.

Hal itu dilakukan supaya pengajian Muhammadiyah jangkauannya lebih luas, bukan hanya kepada pimpinan saja. Sekaligus, Pengajian Muhammadiyah di Masjid Jogokariyan sebagai usaha mendapatkan kembali pemahaman keagamaan sesuai dengan pandangan Muhammadiyah.

“Masjid Jogokariyan ingin menghadirkan Kajian Muhammadiyah untuk publik yang lebih luas, yang terbuka. Karena secara historis masjid ini dirintis oleh pengurus Muhammadiyah Ranting Karangkajen, karena ranting Jogokariyan saat itu belum terbentuk,” ucap Ustadz Jazir pada (9/1) di acara Pengajian Muhammadiyah yang diadakan di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Takmir Masjid Jogokariyan ini menceritakan, pasca Gerakan 30 S PKI, para tokoh Muhammadiyah dari Karangkajen, Yogyakarta menggerakkan semangat warga khususnya para pengusaha batik dari Karangkajen untuk membeli tanah sebagai lahan untuk mendirikan Masjid Jogokariyan yang terkenal itu.

“Diletakkan batu pertama pada tanggal 22 September 1966, dan kemudian tanggal 20 Agustus 1967 pertama kali masjid ini diresmikan dan digunakan untuk Salat Jumat pertama, hari jumat kliwon. Diresmikan oleh Bapak Muhammad Isman, Ketua PDM Kota Yogyakarta pada waktu itu,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa, peran besar penyokong pembangunan Masjid Jogokariyan ini adalah Warga Muhammadiyah dari Ranting Muhammadiyah Karangkajen. Oleh karena itu, menghadirkan Muhammadiyah ke Masjid Jogokariyan kepada publik merupakan ikhtiar menjaga warisan sejarah Muhammadiyah di sana.

Sementara itu, dalam pengajian ini juga menghadirkan Fathurrahman Kamal, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Fathur mengapresiasi atas langkah yang dilakukan oleh Pengurus Masjid Jogokariyan.

Dalam paparannya, Fathur menjelaskan bahwa, semua muslim dengan berbagai latar belakang yang dimiliki memiliki tugas kenabian yang sama. Poros utama pesan dakwah yang disampaikan oleh muslim adalah mengajak mengEsakan Allah, dan melarang menyembah thaghut.

Di zaman yang sarat akan materi sekarang, Fathur mengajak supaya muslim menjadikan Islam sebagai pandangan hidup, bukan hanya sekedar gaya hidup atau hanya memfungsikan Islam sebagai aksesoris. 

Berita Terakhir

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top