Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026, Kampung Berkemajuan LAZISMU Kenalkan Ragam Olahan Pisang Nanggulan

Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026, Kampung Berkemajuan LAZISMU Kenalkan Ragam Olahan Pisang Nanggulan

KULON PROGO — Pisang tak lagi sekadar menjadi hasil pertanian bagi masyarakat Nanggulan, Kulon Progo. Melalui Program Kampung Berkemajuan (PKB) LAZISMU DIY, potensi pisang dikembangkan menjadi beragam produk pangan bernilai tambah, mulai dari keripik gedebok pisang hingga muffin pisang.

Ragam produk tersebut diperkenalkan dalam Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 yang digelar di Jogja Agro Park (JAP), Nanggulan, Kulon Progo, pada 2–3 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY tersebut mengangkat tema “Lumbung Mataraman Pendukung Swasembada Pangan Melalui Pangan Lokal Sehat dan Berkualitas.”

Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026, PKB LAZISMU Kenalkan Ragam Olahan Pisang Nanggulan

Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai potensi pangan lokal dari sejumlah wilayah di DIY. Kegiatan ini juga mempertemukan kelompok tani, pelaku usaha, komunitas, kalurahan, akademisi, dan berbagai pihak yang bergerak dalam pengembangan pangan lokal.

Semangat tersebut sejalan dengan Program Kampung Berkemajuan LAZISMU DIY yang mendorong masyarakat untuk mengembangkan potensi yang ada di wilayahnya. Salah satunya melalui pengembangan komoditas pisang di Nanggulan yang diolah menjadi berbagai produk makanan.

Melalui pemberdayaan yang dilakukan bersama masyarakat, tanaman pisang dimanfaatkan secara lebih optimal. Tidak hanya buahnya, bagian lain seperti gedebok dan bonggol pisang juga dikembangkan menjadi produk pangan.

Sejumlah produk yang diperkenalkan dalam pameran antara lain keripik gedebok pisang dan kerupuk bonggol pisang. Inovasi tersebut menjadi salah satu upaya memanfaatkan bagian tanaman pisang yang selama ini belum banyak memiliki nilai ekonomi.

Sementara itu, buah pisang diolah menjadi berbagai camilan yang lebih familiar bagi konsumen. Produk yang dihasilkan antara lain keripik pisang rasa original, cokelat, dan matcha, serta bolu pisang dan muffin pisang.

Beragamnya produk tersebut menunjukkan bahwa satu komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis produk dengan karakter dan pasar yang berbeda. Pengolahan ini sekaligus memberikan nilai tambah dibandingkan jika pisang hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.

Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026, PKB LAZISMU Kenalkan Ragam Olahan Pisang Nanggulan

Ketua JATAM (Jamaah Tani Muhammadiyah), Lukman, mengatakan pengembangan olahan pisang bersama LAZISMU DIY menjadi bagian dari upaya mendorong potensi pertanian masyarakat agar dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.

“Kami melihat pisang ini bukan hanya sebagai hasil pertanian, tetapi bagaimana bisa diolah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah. Bersama LAZISMU DIY, kami mencoba menggandeng masyarakat untuk mengembangkan berbagai olahan pisang yang potensinya cukup besar,” ujar Lukman.

Lukman menjelaskan, pengembangan produk dilakukan dengan memanfaatkan potensi yang sudah tersedia di masyarakat. Pisang yang dihasilkan kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk olahan, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengembangkan usaha berbasis komoditas lokal.

Menurutnya, kolaborasi dengan LAZISMU DIY menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong pengembangan potensi tersebut. Pemberdayaan tidak hanya diarahkan pada kemampuan memproduksi makanan, tetapi juga bagaimana produk dapat terus dikembangkan dan memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas.

Pengembangan olahan pisang di Nanggulan menjadi salah satu gambaran pendekatan Kampung Berkemajuan LAZISMU DIY, yakni mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan potensi yang sudah dimiliki dan mengembangkannya menjadi kekuatan ekonomi.

Program tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan komoditas pertanian, tetapi mendorong proses dari hulu hingga hilir. Mulai dari potensi yang tersedia di masyarakat, pengolahan bahan, inovasi produk, hingga pengenalan dan pemasaran kepada konsumen.

Kehadiran produk olahan pisang Nanggulan dalam Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan produk kepada khalayak yang lebih luas. Pameran tersebut membuka ruang pertemuan antara masyarakat penghasil produk dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pangan lokal dan pemberdayaan ekonomi.

Konsep ini sejalan dengan semangat Lumbung Mataraman yang mendorong setiap wilayah untuk mengembangkan potensi lokal sesuai dengan karakteristiknya. Pangan lokal tidak hanya dipandang sebagai sumber konsumsi masyarakat, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan sumber penghidupan.

Bagi LAZISMU DIY, pengembangan olahan pisang menjadi bagian dari upaya membangun pemberdayaan yang berkelanjutan. Masyarakat didorong untuk tidak hanya menerima manfaat program, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi dan menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.

Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026, PKB LAZISMU Kenalkan Ragam Olahan Pisang Nanggulan

Dari satu komoditas, lahir berbagai inovasi. Gedebok pisang menjadi keripik, bonggol pisang menjadi kerupuk, buah pisang menjadi keripik dengan beragam rasa, hingga bolu dan muffin pisang.

Kisah olahan pisang Nanggulan menunjukkan bahwa potensi lokal tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Dengan kreativitas, pendampingan, dan kolaborasi, apa yang tumbuh di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi produk yang bernilai.

Melalui Kampung Berkemajuan, LAZISMU DIY terus mendorong agar potensi tersebut tidak berhenti sebagai hasil bumi, tetapi tumbuh menjadi peluang usaha, penguatan ekonomi, dan jalan menuju kemandirian masyarakat.

Berita Terakhir

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Sudah Berbuat Baik Hari ini?