YOGYAKARTA (15/09) — LAZISMU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali bergerak ke Provinsi Aceh untuk melanjutkan ikhtiar pemulihan pascabencana sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan LAZISMU di tingkat daerah. LAZISMU DIY juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada LAZISMU Pidie Jaya agar mampu tumbuh sebagai lembaga yang aktif, profesional, dan siap mengambil peran dalam pelayanan masyarakat, termasuk ketika terjadi bencana.
Kegiatan pelatihan dan pendampingan tersebut berlangsung pada 16–18 September 2026 dengan melibatkan LAZISMU Wilayah Aceh, PDM Pidie Jaya, LAZISMU Pidie Jaya, serta LAZISMU Bireuen. Program ini menjadi bagian dari rangkaian rehabilitasi dan rekonstruksi dampak banjir dan longsor di Aceh yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas kelembagaan di tingkat lokal.
Penguatan LAZISMU Pidie Jaya dinilai penting agar keberadaan lembaga tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar hidup dan mampu menjalankan fungsi pelayanan ZIS serta kerja-kerja kemanusiaan. Potensi zakat, infak, dan sedekah yang telah ada perlu diikuti dengan kemampuan lembaga dalam mengelola, menghimpun, mendayagunakan, dan mempertanggungjawabkannya secara profesional.
“Yang kita dorong adalah bagaimana LAZISMU ini bisa hidup. Ketika ZIS sudah ada, maka harus ada lembaga yang mampu mengelolanya dan menggunakannya secara tepat. Termasuk ketika terjadi bencana, LAZISMU di daerah harus tahu apa yang harus dilakukan dan mampu merespons sesuai kebutuhan masyarakat,” menjadi salah satu arah dari penguatan dalam kegiatan tersebut.
Rangkaian kegiatan diawali pada Rabu (16/09) melalui forum group discussion (FGD) bersama LAZISMU Wilayah Aceh, PDM Pidie Jaya, LAZISMU Pidie Jaya, serta LAZISMU Bireuen. FGD dilakukan untuk memetakan kondisi awal kelembagaan, mengidentifikasi kebutuhan penguatan dan masalah utama, menyepakati prioritas pendampingan, serta merumuskan fokus pelatihan dan pendampingan.
Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam pelatihan yang berlangsung pada Kamis hingga Jumat (17–18/09). Materi pertama membahas pemahaman kelembagaan LAZISMU, posisi LAZISMU dalam Persyarikatan, serta tata kelola dan profesionalisme lembaga. Materi ini menjadi fondasi untuk memperkuat pemahaman mengenai peran dan fungsi LAZISMU sebagai bagian dari ekosistem Persyarikatan Muhammadiyah.
Penguatan kemudian dilanjutkan melalui materi pengelolaan sumber daya manusia dan amil, sistem kerja, serta administrasi kelembagaan. Aspek tersebut diperlukan agar LAZISMU Pidie Jaya memiliki pembagian kerja dan sistem administrasi yang mendukung keberlangsungan lembaga.
Pada aspek penghimpunan, peserta mendapatkan materi mengenai strategi fundraising, segmentasi dan pemetaan muzaki atau donatur, pengembangan kemitraan, serta penyusunan strategi penghimpunan. Penguatan fundraising diharapkan dapat membantu LAZISMU Pidie Jaya mengoptimalkan potensi ZIS yang ada di wilayahnya dan membangun hubungan yang lebih baik dengan para muzaki dan donatur.
Selain fundraising, peserta juga dibekali materi perencanaan program, penyusunan program pendayagunaan, serta pengembangan program yang berdampak dan berkelanjutan. Pengelolaan ZIS diarahkan agar tidak berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi dapat dikembangkan menjadi program yang menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak jangka panjang.
Aspek pengelolaan keuangan juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Peserta mendapatkan materi mengenai prinsip administrasi keuangan, pencatatan transaksi, pengelolaan dana ZISKA, pelaporan keuangan, pengendalian dan akuntabilitas, hingga pemahaman dan penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB).
Rangkaian materi tersebut menjadi satu kesatuan dalam membangun fondasi kelembagaan LAZISMU Pidie Jaya. Lembaga yang memiliki tata kelola, SDM, fundraising, program, serta administrasi keuangan yang baik akan memiliki kapasitas lebih kuat dalam mengelola amanah masyarakat sekaligus mengambil peran dalam situasi kemanusiaan.
Penguatan ini juga memiliki keterkaitan dengan kesiapan respon dan mitigasi bencana. Pengalaman bencana banjir dan longsor di Aceh menjadi pembelajaran bahwa respon kemanusiaan membutuhkan lembaga lokal yang memahami kondisi wilayah, memiliki jejaring, mengetahui kebutuhan masyarakat, serta mampu menggerakkan sumber daya secara cepat dan terarah.
Dengan demikian, ketika bencana kembali terjadi, LAZISMU Pidie Jaya diharapkan tidak harus menunggu seluruh respon dari luar daerah. Lembaga di tingkat lokal dapat mengambil peran sejak awal melalui pemetaan kebutuhan, koordinasi dengan pihak terkait, penghimpunan ZIS, penyaluran bantuan, hingga pendampingan masyarakat terdampak sesuai kapasitas dan kebutuhan di lapangan.
Pada akhir rangkaian kegiatan, peserta bersama LAZISMU Wilayah Aceh, PDM Pidie Jaya, LAZISMU Pidie Jaya, PDM Bireuen, dan LAZISMU Bireuen menyusun rencana tindak lanjut. Tahap ini menjadi bagian penting agar hasil pelatihan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diterjemahkan menjadi langkah konkret untuk penguatan kelembagaan LAZISMU Pidie Jaya.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada Sabtu (19/09) melalui sejumlah agenda yang memperkuat silaturahim, jejaring kelembagaan, dan keberlanjutan program di tengah masyarakat. Kegiatan diawali dengan pengajian dan peresmian Gedung Dakwah PDM Pidie Jaya yang berlangsung di Gedung Dakwah PDM Pidie Jaya.
Agenda dilanjutkan dengan silaturahim bersama perangkat dan masyarakat Desa Pantee Lhong. Dalam kesempatan tersebut dilakukan pula penyerahan simbolis sarana dan prasarana Program Pendampingan Desa yang berlangsung di Meunasah Desa Pantee Lhong.
Kegiatan di Desa Pantee Lhong menjadi bagian dari upaya memastikan pemulihan pascabencana berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Pendampingan desa diarahkan tidak hanya untuk mendukung pemulihan kondisi masyarakat terdampak, tetapi juga memperkuat kapasitas dan potensi lokal agar masyarakat mampu membangun kehidupan yang lebih berdaya serta memiliki kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana di masa mendatang.
Bagi LAZISMU DIY, keberangkatan ke Pidie Jaya bukan sekadar membawa bantuan atau menjalankan program pascabencana. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas lokal agar LAZISMU dapat terus hidup, berkembang, dan hadir di tengah masyarakat.
Penguatan kelembagaan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi LAZISMU Pidie Jaya untuk mengelola ZIS secara amanah dan profesional sekaligus membangun kesiapan menghadapi berbagai kondisi, termasuk bencana. Dengan lembaga yang kuat di tingkat lokal, gerakan kemanusiaan diharapkan dapat bergerak lebih cepat, tepat, dan berkelanjutan bersama masyarakat.


