Inovasi bukanlah sebuah produk instan.  Inovasi adalah bagian dari ketajaman instink, kekayaan pengalaman, keluasan wawasan, ketajaman visi, cara berfikir kreatif  dan spirit untuk terus berubah.

Inovasi Berbasis Pengetahuan

Tantangan untuk melakukan inovasi bagi sebuah lembaga amil adalah kemampuan untuk merumuskan  gagasan-gagasan kreatifnya. Inovasi bukanlah sebuah produk instan.  Inovasi adalah bagian dari ketajaman instink, kekayaan pengalaman, keluasan wawasan, ketajaman visi, cara berfikir kreatif  dan spirit untuk terus berubah. Karena itu, solusi inovatif, kreatif, dan efektif harus didukung oleh proses yang memadai dan komprehensif dari para amil. Apalagi, inovasi yang akan ditawarkan adalah untuk menjaga keberlanjutan sebuah tujuan pembangunan, seperti yang dirumuskan dalam SDGs atau yang dirumuskan dalam enam pilar Lazismu.

Inovasi berbasis pengetahuan yang dimaksud tidak hanya dipahami dalam konteks akademik. Inovasi berbasis pengetahuan lebih mengarah kepada proses pengambilan keputusan yang dilakukan sebelum menjalankan sebuah program.  Proses tersebut meliputi:

  1. Mengidentifikasi masalah atau persoalan.
  2. Mengumpulkan data-data yang memadai terkait masalah yang dikaji.
  3. Mengnalisis inti masalah dan cara menyelesaikannya.
  4. Melakuan bencmarking dan mempelajari best prakticse dari lembaga-lembaga atau innovator-inovator lain di dalam maupun luar negeri
  5. Identifikasi modal (resource) baik dalam bentuk sumber daya uang, sumber daya manusia, dan sumber daya kemitraan yang dimiliki.
  6. Pencarian dan penentuan mitra strategis dl dalam dan di luar persyarikatan
  7. Perumusan program prioritas dan tahapn-tahapan pelaksanaannya
  8. Membuat peta jalan dan jangka waktu pelaksanaan untuk menjaga kesinambungan dan keberlanjutan.
  9. Menentukan fokus dan mendalami bentuk inovasi yang ditawarkan.
  10. Mencetak inovator (individu maupun kelompok) yang dibutuhkan di tempat program dilaksanakan.

Dengan demikian, dapat ditegaskan lagi bahwa bahwa proses diskusi yang mendalam, serius dan sistematis berbasis data yang memadai menjadi prasyarat untuk menawarkan sebuah inovasi. Selain itu,   inovasi sosial  yang berdampak luas tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan harus menggandeng mitra-mitra strategis baik berbasis kampus (PTM), berbasis korporasi, maupun masyarakat sipil lainnya.

Scroll to Top