ACEH – Setelah menyelesaikan fase tanggap darurat dan merumuskan rencana pemulihan pascabencana, Muhammadiyah DIY kini mulai mengimplementasikan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) di Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Program yang akan berlangsung hingga September 2026 ini merupakan kelanjutan dari respon kebencanaan yang telah dilakukan Muhammadiyah DIY selama tiga bulan pertama pascabencana di Aceh. Jika pada fase tanggap darurat fokus diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, maka pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi perhatian beralih pada upaya pemulihan jangka panjang yang berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, LAZISMU DIY bermitra dengan Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) D.I. Yogyakarta sebagai pelaksana program di lapangan. Tim rehabilitasi dan rekonstruksi terdiri dari enam personel LRB PWM DIY yang akan mendampingi masyarakat selama proses pemulihan berlangsung.
Manager Regional LAZISMU DIY, Marzuki, menjelaskan bahwa fase rehabilitasi dan rekonstruksi merupakan bagian penting dalam siklus penanganan bencana untuk memastikan masyarakat tidak hanya pulih dari dampak bencana, tetapi juga memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam menghadapi risiko di masa mendatang.
“Penanganan bencana tidak berhenti ketika fase darurat selesai. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat kembali bangkit, memulihkan sumber penghidupannya, serta memiliki kapasitas dan ketangguhan yang lebih baik dalam menghadapi potensi bencana di masa depan,” ujarnya.
Program rehabilitasi dan rekonstruksi dilaksanakan melalui beberapa tahapan, dimulai dengan baseline survey untuk memetakan kondisi awal masyarakat dan kebutuhan lapangan. Selanjutnya dilakukan sosialisasi program, rembug warga, pelatihan, praktik lapangan, monitoring dan evaluasi, peresmian program, hingga kegiatan endline survey dan learning sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengukuran dampak program.
Koordinator Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi dari LRB PWM DIY, Afiq, menjelaskan bahwa seluruh tahapan dirancang dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat sejak awal.
“Kami ingin memastikan bahwa program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, proses pemulihan dilakukan melalui keterlibatan aktif warga mulai dari tahap pemetaan kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi program,” jelasnya.
Dalam implementasinya, program difokuskan pada empat bidang utama, yaitu penguatan ketangguhan desa, pemberdayaan ekonomi masyarakat, penguatan kapasitas kelembagaan Muhammadiyah, serta Monitoring, Evaluation, Accountability and Learning (MEAL).
Pada bidang ketangguhan desa, LAZISMU DIY bersama LRB PWM DIY mengembangkan Program Desa Tangguh Bencana yang bertujuan memperkuat kesiapsiagaan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Melalui program ini, masyarakat didorong untuk memiliki perencanaan mitigasi, sistem kesiapsiagaan, serta mekanisme penanganan risiko berbasis komunitas.
Sementara itu, pada bidang pemberdayaan ekonomi, program diarahkan pada revitalisasi komoditas Jeruk Bali sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat membantu memulihkan fungsi lahan yang terdampak sekaligus mengembangkan sumber ekonomi warga pascabencana.
Penguatan kapasitas kelembagaan Muhammadiyah juga menjadi bagian penting dalam program rehabilitasi dan rekonstruksi. Berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi pelatihan manajemen bencana, pelatihan pengembangan Kantor Layanan LAZISMU, pengadaan alat transportasi untuk Pimpinan Wilayah Aisyiyah Aceh, serta pembangunan rumah ibadah tangguh bencana yang diharapkan dapat menjadi pusat aktivitas sosial, keagamaan, dan penguatan kapasitas masyarakat.
Marzuki menambahkan bahwa program rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar membangun kembali apa yang rusak akibat bencana, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk pulih, berkembang, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang,” tambahnya.
Melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi dengan total anggaran sebesar Rp1.922.774.000, LAZISMU DIY berharap masyarakat di wilayah sasaran dapat kembali pulih dan memiliki sumber penghidupan yang lebih kuat.
Program ini juga diharapkan mampu melahirkan desa yang lebih tangguh terhadap risiko bencana, memulihkan produktivitas kelompok tani, meningkatkan kapasitas warga Muhammadiyah dalam penanganan darurat bencana, serta memperkuat peran organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam pelayanan kepada masyarakat.
Langkah ini menjadi wujud komitmen Muhammadiyah DIY bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada masa tanggap darurat semata, tetapi berlanjut hingga masyarakat benar-benar mampu pulih, bangkit, dan berdaya secara mandiri menuju kehidupan yang lebih baik.


